Tetap Semangat !!
Ditengah situasi yang serba sulit saat ini dimana kita dihadapkan pada kenaikan harga-harga pada hampir seluruh kebutuhan hidup (sembako, BBM, biaya pengobatan, biaya pendidikan, listrik, transportasi dsb) menjadikan kita hidup dalam ketidaknyamanan… apalagi ditambah dengan tingginya tingkat kriminalitas yang bisa kita saksikan setiap hari di media TV atau koran.. ditambah lagi banyaknya bencana alam yang terjadi di negeri tercinta ini semakin menambah beratnya beban bagi kita semua. Pemerintah pusing, akhirnya kita juga ikut pusing… Lantas apakah dengan kondisi seperti ini kita akan patah semangat? Tentunya tidak bukan? Kita harus tetap bersemangat dalam menyikapinya, dan harus selalu optimis menatap masa depan. Tentunya dengan doa yang tulus, mudah-mudahan Allah SWT akan memberikan jalan keluar terbaik bagi kita.
Wahid berkata,
Januari 14, 2009 pada 8:43 pm
Tak layak patah semangat, juga tidak asal tambah semangat. Tetapi harus pula introspeksi. Ketika kita merasa sudah “do our best”, maka selanjutnya terserah Allah bikin ketentuan (bisa dibikin gagal, bisa dibikin berhasil). Yg dinilai oleh-Nya dari kita adl “Usaha” kita (kasab), bukan hasilnya.
Pastikan bahwa kita telah “do our best” di dalam hidup ini, dan sepenuhnya compatible dengan perintah dan larangan Allah swt, sesuai dg petunjuk Rasul-Nya. Kalau tidak…… ya, kita tak layak berharap kebaikan in the hereafter day……
Wahid berkata,
Januari 15, 2009 pada 9:09 am
QS.7:96 Kalau saja penduduk negeri2 itu SECARA KOLEKTIF mereka BERIMAN dan BERTAQWA, maka pastilah Allah bakal bukakan PINTU BERKAH dari LANGIT dan dari BUMI. Tetapi sayang, ……….
Ya, kita kan ritualnya ngikut Rasulullah (walaupun di sana sini diselingi dg berbagai bid’ah), tetapi:
1. ketika kita berekonomi, kita tetap makan riba (bunga/interest), malsukan ukuran & timbangan, memalsukan keterangan ingridient makanan kemasan, pakai pewarna berbahaya, pakai adiksi bahan super toxic, pakai bumbu yg dicampuri munyak babi (disamarkan dalam istilah2 yg tdk dikenal masyarakat, spt MSG, shortening, dsb).
2. Ketika memberlakukan hukum, kita pakai hukum bikinan Belanda (yg kafir dan penjajah itu) sampai sekarang, padahal QS.5:48-49 jelas melarang itu
3. Ketika bertata-negara kita menggunakan struktur tata-negara gaya Montesqueau, Jihn Lock, Thomas Aquino, dsb
4. Ketika bermasyarakat kita pakai teorinya Voltaire
5. Aqidah biologi kita bertaqlid kepada teori Darwin,
6. Kurikulum pendidikan kita ngikut kurikulum Amerika yg dajjal itu
7. Pergaulan kita sehari-hari diwarnai dg ihtilath (campur aduk laki-perempuan, uwel-uwelan di mall2, di pasar2, di gedung2 pertunjukan, joged-jogedan di cafe/night club, pakaian gadis2 muslimahnya juga ga karu-karuan, kepala dibungkus tapi celana dalam diumbar, kalau engga pakaiannya ketat seperti leupeud, pada nonjol sana nonjol sini).
8. Ustadz2 sudah pada pasang tarif masing, shg ngajinya ditarget demi fulus, jadi bukan “lillaah” tapi lil fulus, lil beseq wal huduq. Padahal Al Qur-aan>10 X mengatakan bahwa para Nabi & Rasul berkata: “Aku tidak minta upah apapun dari da’wahku ini, upahku hanya dari Allah SWT”.
Nah, kalau gitu kita perlu merenung lagi, kapan kita bakal bersilam secara kaaffah (QS.2:108), sebab kalau islam kita sepotong2 maka diancam bakal dihinakan selama hidup di dunia dan di akhirat diancam dg neraka [QS.2:85].
Bagaimana……..?
ciksriyanto berkata,
Januari 19, 2009 pada 10:39 pm
bahan intropeksi buat kita semua yaa..